Koordinasi yang Baik antar Instansi Percepat Selesaikan Proyek Strategis Nasional

Sekda Pemkab Semarang, Jarot Supriyoto bersama salah seorang staf khusus Wapres.

Ungaran | Memo Jateng
Koordinasi yang baik antar instansi dinilai menjadi salah satu faktor mempercepat penyelesaian berbagai proyek strategis nasional (PSN).

Penegasan itu disampaikan oleh staf khusus Wakil Presiden bidang infrastruktur dan investasi, Dr Sukriansyah S Latief saat menghadiri rapat monitoring dan evaluasi percepatan penyelesaian PSN di wilayah Kabupaten Semarang.

Rapat yang dipimpin Sekda Djarot Supriyoto kemarin, berlangsung di Ruang Bina Praja Kompleks Kantor Bupati Semarang di Ungaran. Ikut hadir pada acara itu pimpinan perangkat daerah Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Semarang dan instansi vertikal terkait.

Menyinggung keterlambatan pengerjaan PSN yakni proyek Bendungan Jragung di Desa Candirejo, Pringapus, Sukriansyah menegaskan pihaknya akan berkoordinasi langsung dengan Dirjen terkait. Tersendatnya penerbitan izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) dianggap karena lemahnya koordinasi antar instansi.

“Minggu depan Kita akan bertemu dengan para Dirjen untuk mengatasi masalah itu. Selanjutnya akan menjadi rekomendasi ke Wapres untuk menyelesaikannya,” katanya.

Dia berharap penyelesaian PSN Bendungan Jragung dapat tepat waktu. Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juwana, Muhammad Adek Rizaldi sebelumnya memaparkan proses pembangunan waduk Jragung terlambat hampir setahun.

Salah satu kendalanya adalah IPPKH yang belum turun. Setidaknya ada lahan hutan seluas 630,04 hektar yang dimintakan izin ke Kementerian LHK untuk digunakan membangun bendungan.

Sedangkan lahan milik warga yang terkena proyek seluas 14,39 tersebar di Dusun Borangan dan Dusun Kedungglatik.

Ditegaskan, bendungan Jragung akan menjadi bendungan multi fungsi yang membawa dampak sosial ekonomi luas.

Selain sebagai sumber air baku berkapasitas 1 meter kubik per detik untuk Kota Semarang, Demak dan Grobogan juga sebagai pengendali banjir. Bendungan juga akan digunakan untuk mengairi 4.528 lahan pertanian dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) berkapasitas 1.400 KW.

Luas genangan Bendungan direncanakan 451,3 hektar dan mampu menampung 90 juta meter kubik air. (*/dim/dik)