Aksi Simpatik  dan Kepedulian dari Paguyuban Bumbon

Salatiga | Memo Jateng

Paguyuban Bumbon Tanpo Tumbas membagikan bibit sayuran kepada masyarakat terkhusus kaum perempuan. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk turut prihatin banyaknya perempuan yang dirumahkan selama masa pandemi Covid-19.

“Pembagian bibit sayuran ini dimaksudkan agar mereka kaum perempuan tetap bisa produktif. Pembagian bibit tanaman sayuran ini merupakan tahap kedua. Kami berikhtiar meningkatkan ketahanan pangan dan membantu perekonomian masyarakat terutama di masa pandemi Covid-19,” Pembina Paguyuban Bumbon Tanpo Tumbas Hartoko Budhiono, Senin (27/9) kemarin.

Diungkapkan Hartoko, situasi pandemi berimbas pada pengurangan aktivitas di luar rumah dan banyak kaum perempuan yang menganggur atau terbatas pekerjaannya. Ini sangat memprihatikan karena perempuan bisa menjadi penyokong perekonomian keluarga.

“Melihat situasi itu kami memutar otak agar masyarakat punya aktivitas selama di rumah dan juga membantu masyarakat yang terdampak perekonomiannya,”ungkap Hartoko.

Dari situasi tersebut,lanjut Hartoko,  muncul ide  membagikan bibit tanaman sayuran sekaligus mengajak dan mendampingi masyarakat melakukan urban farming, yakni sistem pertanian di perkotaan bagi masyarakat yang tak punya sawah.

“Pembagian bibit tanaman sayuran ini diharapkan mampu meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan di tengah pandemi Covid-19.” tambahnya.

Sedangkan hasilnya, menurut Hartoko, akan bisa dirasakan masyarakat. Dalam hal ini mereka  bisa panen cabai, terong dan sayuran lain.

‘’Makanya ketika harga cabai mahal ratusan ribu per kilogram, masyarakat sudah tidak mikirin biaya beli cabai,’’ katanya

Sementara, Ketua Aliansi Petani Indonesia Jawa Tengah, Syukur Fahruddin, mengatakan bibit tanaman sayuran itu diharapkan agar dijaga dan dibesarkan.

“Tercatat pada tahap pertama sudah didistribusikan ke 15 RT, sedangkan hari Minggu tahap kedua pendistribusiannya ke 20 RT, total sudah ada 12.000 bibit yang dibagikan ke warga di empat kecamatan di Salatiga,” jelasnya.

Menurut Fahruddin, pendistribusikan bibit kedua karena melihat pendistribusian tahap pertama dirasa sukses. Indikator keberhasilannya ibu-ibu yang menerima bibit mampu memelihara dan mengembangkan secara mandiri. (*/har/dik)