Proyek “Malioboro Tegal” Ditolak, Penghuni dan Pengusaha di Jalan A Yani Bakal Gugat Pemkot

Jalan Ahmad Yani Kota tegal yang segera bakal disulap menjadi jalanan beraroma Malioboro Jogja. Protes dilayangkan oleh para penghuni dan pengusaha di jalan tersebut. (Foto: smpantura.com)

Tegal | Memo Jateng
Proyek city walk di Jalan Ahmad Yani Kota Tegal, Jawa Tengah, yang akan dijadikan ikon wisata seperti di kawasan Malioboro Yogyakarta terus mendapat penolakan dari berbagai pihak. Setelah dari mahasiswa hingga sopir angkot menggelar aksi demonstrasi ke Gedung DPRD, Kamis (23/9/2021), kali ini penolakan datang dari pemilik rumah dan pelaku usaha lainnya di Jalan Ahmad Yani.

Humas Perkumpulan Penghuni dan Pengusaha Jalan Ahmad Yani (P3 JAYA) Kota Tegal, Agustino mengatakan, tegas menolak Jalan Ahmad Yani yang akan diubah konsepnya dari kawasan niaga menjadi wisata.

“Itu yang menjadikan kami sebagai penghuni dan pedagang yang mencari makan di situ tentu kami merasa keberatan. Kalau konsepnya seperti Malioboro ya kami menolak. Kami akan melayangkan gugatan hukum,” kata Agustino seperti disampaikan kepada Kompas.com, Minggu (26/9/2021).

Agustino juga menyebutkan, pada dasarnya tidak menolak perubahan di Jalan Ahmad Yani asalkan mempertimbangkan banyak aspek sehingga tidak berdampak buruk ke masyarakat sekitar. Perubahan yang akan mempengaruhi nasib 200 Iebih penghuni dan pemilik rumah di sekitar harus dipikirkan dengan matang dan bijaksana.

“Apalagi situasi sudah cukup buruk di tengah pandemi bagi para pengusaha, penghuni, dan pendatang yang menggantungkan hidupnya di jalan sepanjang 750 meter ini,” sebut Agustino.

Menurutnya, mengubah kawasan niaga menjadi kawasan wisata tidak mudah. Perilaku masyarakat akan berubah, dari mudah parkir menjadi kesulitan, pola ekonomi akan berubah, lalu lintas akan berubah, dan beragam perubahan lainnya.

Di lokasi tersebut, tidak hanya ada pedagang kuliner. Banyak pelaku usaha dan jasa lain seperti bengkel mobil dan motor, toko besi, gerabah, elektronik, pedagang pakaian, alat olahraga, hingga yang lainnya.

“Tentu tidak asal saja merubah konsep suatu jalan menjadi city walk, apalagi tanpa kantong parkir yang jelas,” kata Agustino.

Pihaknya khawatir jika kawasan tersebut sudah menjadi city walk, usaha perdagangan di Jalan Ahmad Yani akan mati total. Agustino mencontohkan Jalan Teri yang pernah dirubah konsepnya menjadi kawasan city walk sebagai pusat kuliner.

“Dalam sekejap Jalan itu menjadi Kota mati. Hanya berdiri gerbang besar putih dan paving block jadi saksi sejarah,” ungkap Agustino. Menurut Agustino, perubahan atau pembangunan memang baik. Asalkan dilandasi konsep dan berbagai kajian yang matang. “Sekali lagi perubahan tidaklah buruk, hanya saja perubahan yang dilakukan tanpa kejelasan konsep dan mimpi semata, dengan mengatasnamakan pembangunan hanya akan menciderai penghuninya,” sambung Agustino.

Setelah beragam pertimbangan, sebut Agustino pihaknya berencana akan melakukan gugatan hukum terhadap Pemkot Tegal. “Menang atau kalah, ini adalah periuk nasi kami, jadi kami akan pertahankan. Mungkin kami tidak berdaya, tetapi saat ini kami telah bersatu dan memutuskan untuk berjuang agar aspirasi kami didengar,” kata Agustino.

Agustino mengatakan, pihaknya akan bergabung dengan elemen masyarakat lainnya yang menolak proyek yang sudah mulai dikerjakan mesti disebut-sebut tanpa studi kelayakan.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Sugiyanto mengatakan, kawasan Jalan Ahmad Yani nantinya tidak jauh berbeda dengan yang sekarang.

“Masih menjadi kawasan niaga, kawasan bisnis. Hanya saja pada saat jam jam tertentu, misalnya jam 5 sore sampai 12 malam ditambah ada yang berjualan seperti di Malioboro. Harapannya menjadi pusat ekonomi lebih ramai,” kata Sugiyanto saat dihubungi.

Sementara terkait studi kelayakan yang banyak dipertanyakan, Sugiyanto menyebut jika hal itu tidak diperlukan. “Kaitannya studi kelayakan, kalau membangun jalan tidak perlu karena jalan itu sudah ada. Dishub juga sudah menyusun konsep rekayasa lalulintas dan parkir. Sedangkan untuk penataan PKL, yang menjawab Diskop UMKM dan Perdagangan,” kata Sugiyanto.

Kendati mendapat banyak penolakan, proyek senilai Rp 9,7 miliar yang dikerjakan pihak kontraktor sejak awal September dan ditarget rampung Desember 2021 itu hingga kini masih berjalan.

“Proyek masih berjalan. Harapannya proyek city walk ini ke depan akan menambah keramaian, memperpanjang keramaian, jadi pemilik toko di Jalan Ahmad Yani tidak perlu takut, ragu, atau khawatir,” pungkas Sugiyanto.

Sebelumnya diberitakan, bersama mahasiswa, massa yang terdiri dari PKL, pedagang Pasar Pagi, juru parkir, dan sopir angkot menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Tegal, Jawa Tengah, Kamis (23/9/2021). Mereka menuntut agar proyek City Walk “Malioboro” di Jalan Ahmad Yani dibatalkan karena akan berdampak pada aktivitas perekonomian dan masa depan mereka.

Selain tanpa didahului sosialisasi, proyek senilai Rp 9,7 miliar disebut tanpa melalui studi kelayakan dan uji publik oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal. “Ketika proyek ini dilaksanakan dan sampai jadi apakah bisa menjamin kesejahteraan akan lebih naik. Makanya, kami selalu teriak menanyakan studi kelayakan,” kata Miftahudin, salah satu peserta aksi.

Peserta aksi lainnya yang juga sopir angkot, Abror, mengatakan, setiap hari bersama 100-an sopir lainnya kerap mangkal dan menjemput penumpang di Pasar Pagi yang berada di Jalan Ahmad Yani.

“Adanya proyek ini usaha kita akan mati karena setiap hari kami masuk ke situ. Tak hanya pendapatan kurang, tetapi akan mati. Ada lebih dari 180 angkot yang setiap hari keluar masuk membawa penumpang karena ada Pasar Pagi,” kata Abror.

Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tegal Adi Arfian mengatakan, pihaknya sudah sampai dua kali menanyakan perihal studi kelayakan, tetapi tak pernah bisa ditunjukkan pelaksana proyek. (kom/rif)

Sumber: kompas.com