Cabuli Muridnya, Oknum Guru Agama di Sragen Dilaporkan ke Polisi

ILUSTRASI

Sragen | Memo Jateng
Seorang oknum guru agama di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah berinisial Z (55) diadukan ke polisi karena diduga pencabulan terhadap muridnya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sragen AKP Guruh Bagus Eddy Suryana mengatakan telah menerima laporan pengaduan dari keluarga korban pada Jumat (3/9/2021). Kini polisi masih mendalami dan mengumpulkan barang bukti terkait kasus dugaan pelecehan tersebut.

“Besok saksi kami periksa. Ada beberapa saksi yang kami hadirkan terutama dari keluarga korban,” kata Guruh dihubungi, Senin (6/9/2021).

Pemeriksaan saksi korban untuk mengetahui kronologi peristiwa dugaan pencabulan yang dialami. Di sisi lain juga untuk mengetahui modus yang dilakukan oleh oknum guru ngaji sampai melakukan dugaan tindakan pencabulan terhadap korban.

Terpisah, Paman korban MN mengatakan, dugaan pelecehan seksual yang dialami keponakannya tersebut terjadi pada Rabu (1/9/2021) sore. Bermula keponakannya selesai mengaji disuruh menyapu di pondokan dan gudang.

“Dari awal habis ngaji disuruh nyapu di pondokannya. Habis itu di gudang lha gurunya masuk pintunya langsung ditutup,” katanya.

Di dalam gudang, kata dia, oknum guru tersebut bertanya kepada korban dengan bahasa tidak senonoh dan ingin melihat kelamin korban. Korban yang sudah duduk di bangku SMP sontak menolak permintaan oknum guru tersebut. Tetapi, oknum guru itu terus memaksa hingga dugaan pelecahan itu terjadi.

“Anaknya dipaksa terus. Habis kejadian itu teriak pintu terus dibuka. Anaknya keluar sambil menangis bilang sama ibunya,” terang dia.

MN mengatakan, setelah mendengar cerita keponakannya itu keluarga menjadi heboh. Kemudian kakak korban mendatangi rumah oknum guru agama.

“Gurunya itu bilang minta maaf dan katanya khilaf gitu. Habis itu gurunya datang ke rumah korban untuk meminta maaf,” katanya.

MN mengatakan keluarga sudah melaporkan dugaan pelecehan tersebut ke polisi. Pasalnya, kata MN, setelah kejadian itu keponakannya mengurung diri rumah. “Iya (trauma). Anaknya di rumah terus,” terangnya. (kom/rif)