Prostitusi dan Karaoke Makin Liar, PCNU Pati Dukung Pembongkaran Komplek Lorong Indah

Kompleks prostitusi Lorong Indah Pati yang legendaris itu. (Foto: tren24jam.com)

Pati | Memo Jateng

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati mendukung penuh upaya Satpol PP melakukan penertiban di lokalisasi Lorok Indah atau Lorong Indah.

Ketua PCNU Kabupaten Pati Kiai Yusuf Hasyim mengatakan, pihaknya selalu konsisten menyuarakan agar pemerintah serius menertibkan tempat prostitusi dan tempat hiburan karaoke yang melanggar aturan di Kabupaten Pati. Apalagi, banyak diantaranya yang ilegal alias tidak berizin.

“NU dan seluruh Banom (badan otonom) sudah sejak lama memberi masukan kepada aparatur penegak hukum agar tegas tanpa pandang bulu untuk menertibkannya. Bahkan sejak 2013, ormas-ormas Islam di Pati sudah bersuara lantang agar tempat-tempat prostitusi, hiburan karaoke, dan kemaksiatan yang merusak masyarakat dan generasi muda agar secara tegas ditutup,” ungkap dia pada Tribunjateng.com, Selasa (3/8/2021).

Karena itu, Kiai Yusuf Hasyim mengapresiasi langkah Satpol PP Pati yang baru-baru ini telah melayangkan surat kepada pengelola kawasan Lorong Indah.

Surat tersebut berisi pemberitahuan dan teguran bahwa bangunan-bangunan yang ada di kawasan LI tidak berizin serta melanggar tata ruang wilayah.

Ormas-ormas Islam lain menurut dia juga mendukung langkah penertiban ini. Karen itu dia berharap pemerintah segera menindak tegas tempat lokalisasi tersebut.

“Kami berharap kepada pemerintah daerah melalui Satpol PP dengan didukung TNI-Polri segera merealisasikan pembongkaran bangunan di LI yg jelas-jelas melanggar peraturan,” tutur dia.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Pati bersama jajaran kepolisian tengah serius melakukan upaya penertiban di kompleks lokalisasi Lorok Indah alias Lorong Indah, Margorejo.

Kepala Satpol PP Pati Sugiono menuturkan, saat ini tempat prostitusi tersebut sudah dalam keadaan sepi. Hal ini lantaran sekira 250 orang penghuninya yang mayoritas berasal dari luar Pati sudah dipersuasi untuk kembali ke kampung halaman.

“Terkait penertiban LI, ini diawali gerakan Pak Kapolres (AKBP Christian Tobing) bersama Kabag Ops (Kompol Sugino) pada 14 Juli lalu. Gerakan tersebut ialah mengeluarkan pekerja atau penghuni yang bukan warga Pati dengan baik, dengan empati. Ini tidak mudah, karena sekitar 250 orang lebih bisa keluar secara baik-baik,” jelas dia, Senin (2/8/2021).

Dia menambahkan, 250 pekerja seks komersial yang telah meninggalkan LI tersebut kebanyakan berasal dari Semarang, Jepara, Kudus, dan sejumlah daerah di Jawa Barat.

“Total ‘penghuni LI’ berdasarkan info yang kami terima sekitar 250 sampai 300 orang. Jadi saat ini hampir 100 persen sudah pergi. Kami juga melakukan penjagaan di sana. Selama PPKM kami jaga 24 jam. Supaya mereka tidak kembali,” ujar dia.

Sebagai langkah lanjutan, lanjut Sugiono, pihaknya juga telah melayangkan surat pemberitahuan pada pengelola kawasan LI. Hal ini lantaran pemilik bangunan yang berada di sana tidak ada satu pun yang memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

“Jadi lokasi usaha mereka melanggar tata ruang. Sebenarnya peruntukannya ialah lahan pertanian pangan berkelanjutan. Maka dari itu harus dikembalikan sesuai fungsi atau peruntukannya. Kalau tidak, ada jerat pidananya, karena melanggar RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah),” papar dia.

Sugiono berharap, para pemilik bangunan di LI bisa sadar dan mengikuti peraturan yang ada dengan baik. Namun demikian, ia berharap perkara ini bisa terselesaikan secara musyawarah, tanpa ada konflik.

“Bupati Haryanto juga berharap ini bisa diselesaikan dengan baik tanpa ada pihak yang dirugikan. Beliau minta hal ini segera dirapatkan dengan pihak terkait untuk tindak lanjutnya,” kata dia.

Sugiono menuturkan, surat yang pihaknya layangkan sifatnya baru pemberitahuan. Tujuannya agar para penghuni LI memahami ketentuan yang ada. Menurut dia, para pemilik bangunan di LI ingin bertemu untuk membicarakan hal ini lebih lanjut, supaya kedua belah pihak punya pemahaman yang sama. (trib/rep)