7 Anak Perusak Makam di Solo Ditetapkan Tersangka

0 10
Wali Kota Solo meninjau belasan malam yang mengalami kerusakan. (Foto: Dokumen)

Solo | Memo Jateng

Tujuh anak ditetapkan sebagai tersangka kasus perusakan makam di TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo. Mereka adalah murid Kuttab yang berada tak jauh dari lokasi makam.

Kapolresta Surakarta Kombes Ade Safri Simanjuntak menyatakan semua pelaku masih di bawah umur sehingga penanganan perkara akan mengikuti koridor Undang-undang No 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

“Tersangkanya ada tujuh itu. Anak-anak semua. Ada yang di bawah 12 tahun, ada yang di atas 12 tahun,” katanya, Rabu (30/6).

Batas usia 12 tahun, terang Ade nantinya akan membedakan penanganan perkara. Untuk anak di bawah 12 tahun akan dilakukan pembinaan berdasarkan keputusan Polresta Surakarta, Pekerja Sosial, dan Badan Permasyarakatan (Bapas).

“Tiga pilar ini akan koordinasi mengambil keputusan berdasarkan hasil pemeriksaan dari kami. Keputusan ini nanti akan dimintakan surat penetapan dari Pengadilan Negeri sehingga punya kekuatan hukum,” katanya.

Sementara untuk anak usia 12 tahun ke atas akan dilakukan upaya diversi atau penyelesaian perkara di luar proses peradilan. Diversi dilakukan dengan mempertemukan pelaku, orang tua dengan para korban untuk mencapai kesepakatan. Polres kemudian membuat berita acara berdasarkan kesepakatan tersebut.

“Berita acara itu kita kirim ke pengadilan untuk dilakukan penetapan. Berdasarkan penetapan itu kita keluarkan SP3 [Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan],” urainya.

“Tapi kalau dari pertemuan [pelaku dan korban] ternyata tidak terjadi kesepakatan, maka kita tindak lanjuti berkasnya ke penuntut umum,” katanya.

Lebih lanjut, Ade membeberkan Kuttab tempat anak-anak tersebut belajar sudah berada di rumah berstatus kontrak. Pengelola sepakat pindah setelah bertemu dengan pengurus RT-RW, dan pemilik kontrakan.

“Mau pindah ke mana saya juga tidak tahu. Tapi kemarin yang jelas kesepakatannya mereka akan pindah,” katanya.

Sebelumnya, media sosial digemparkan adanya peristiwa perusakan makam di TPU Cemoro Kembar. Belakangan diketahui pelakunya adalah murid dari Kuttab yang berada tak jauh dari makam tersebut.

Peristiwa tersebut juga menyita perhatian Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Putra Presiden Joko Widodo itu marah dan menduga kuat adanya intoleransi dalam kasus tersebut. Ia meminta agar Kuttab ditutup.

“Sudah enggak bener ini. Apalagi ini belum punya izin,” katanya.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah Sholahuddin Aly mendukung langkah polisi dan beberapa instansi dalam mengusut kasus perusakan makam salib yang terjadi di Kota Solo. Pengusutan itu perlu dilakukan untuk mencari penyebab terjadinya peristiwa itu.

“Jangan sampai terulang, jangan sampai terjadi lagi,” katanya, Rabu (30/06/2021).

Menurutnya, terdapat beberapa kemungkinan yang menjadi faktor penyebab sehingga pada siswa Kuttab Millah Muhammad itu melakukan perusakan makam salib. Hal itu menyebabkan pengusutan harus dilakukan hingga tuntas.

“Ini perlu diusut, apakah faktor kenaifan anak-anak, faktor kecerobohan atau memang dari kecil sudah diajari seperti itu,” kata Sholahuddin Aly.

Meski demikian dia meminta masyarakat untuk terus mewaspadai kemungkinan adanya pemikiran radikal yang ditularkan melalui lembaga pendidikan. Sebab, selama ini pemerintah sudah cukup serius dalam menangkal masuknya paham radikal di dunia pendidikan.

“Yang kami khawatirkan adalah anak-anak ini memang terkontaminasi ideologi radikal dan intoleran,” katanya.

Saat ini Balai Pemasyarakatan (Bapas) juga telah melakukan pendampingan dan penelitian terhadap anak-anak yang terlibat dalam perusakan tersebut. Mereka berharap kasus itu tidak membuat anak-anak itu merasa tertekan.

“Proses hukum mereka sudah selesai di mediasi,” kata  Bimbingan Klien Anak Bapas Solo, Saptiroch Mahanani. Para keluarga korban perusakan makam sudah berdamai dan memaafkan pelaku perusakan itu. (kum/cnn/rea)

Leave A Reply

Your email address will not be published.