Ternak Kutu Air Daphnia dan Artemia, Jadi Hobi Masa Kini

0 35

Semarang | Memo Jateng

Belakangan ini di masyarakat marak pelihara ikan, terutama ikan cupang. Meski hobi ini sudah dikenal sejak lam, namun ketika pandemi hobi ikan kembali mencuat seolah-olah menjadi hal baru. Uniknya diantara pecinta ikan hias, ada pula seseorang yang hobi membudidayakan kutu air atau disebut juga udang renik. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan ikan-ikannya tersebut.

Suwardi (53), Warga Gayamsari, Semarang Timur, memulai beternak kutu air sejak beberapa bulan yang lalu. Ia membudidayakan jenis Daphnia Magna air tawar dan Artemia Rotifera yang diternak menggunakan air laut. Ia mendapatkan jenis Daphnia dari berburu ke sungai atau sawah, lalu di budidaya sendiri dengan menggunakan media ember yang diberi selang oksigen jadi airnya berganti terus. Sedangkan untuk yang Artemia karena harus menggunakan air laut, Ia menyiasati dengan menyampurkan garam dengan air di medianya. Untuk proses awalnya menggunakan air pam yang diendapkan selama satu minggu untuk menghilangkan senyawa kaporit.

“Untuk menyesuaikan kehidupannya di air laut, jadi saya siasati dengan menyampur garam”, ujarnya, saat ditemui di rumah pada Kamis, (27/5)

Ia mengaku lebih suka budidaya sendiri untuk pakan ikan-ikannya hal tersebut karena kandungan nutriis dan protein yang terbilang tinggi. Ada setidaknya enam media ember yang digunakan, semuanya memiliki massa umur yang berbeda. Karena siklus hidup kutu air sangat pendek, yakni paling lama dua minggu. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan pakan harus memiliki beberapa media, meskipun sebelum kutu air ini mati, rata-rata mereka telah berkembang biak dahulu.

“Siklus hidupnya sangat pendek, ini juga termasuk lama kembangbiaknya, hasilnya masih segini aja. Belum nemu cara yang pas biar perkembiakannya cepet”, bebernya

Selain untuk kebutuhan sendiri, terkadang juga ada yang membeli. Harganya dibandrol 10 ribu per satu sendok makan atau setara dengan 300 ekor per sendoknya. Budidaya kutu air tidak semudah yang dibayangkan, mengingat sensitifitas tinggi. Seperti apabila tercemar air hujan atau aliran oksigen mati maka kutu juga air bisa mati. Air harus berada dengan pH 6,5 – 7,5 dengan suhu air 24-30 derajat  Celcius.

“permintaan banyak, tapi karena budidaya agak susah jadi permintaan di pasaran tidak bisa terpenuhi,” ucapnya.

Suwardi mengaku, media yang digunakan saat ini masih kurang layak, mestinya menggunakan media transparan persegi berukuran 1×1 meter. Supaya bisa diliat perkembangannya dari sisi. (fat/rif)

Leave A Reply

Your email address will not be published.