Siswa SMP di Banyumas Meninggal Dunia Sarafnya Kena, Akibat Kecanduan HP?

0 13
Foto Ilustrasi

Purwokerto | Memo Jateng

Diduga kecanduan game online, seorang anak berusia 12 tahun meninggal dunia, Selasa (25/5) kemarin. Akibat terkena saraf karena kecanduan game online, kabar meninggalnyapun langsung tersebar secara berantai melaui aplikasi Whatsapp.

Kapolsek Kemranjen AKP Supardi membenarkan kabar tersebut. “Itu kan anak senang main game, terus sarafnya kena, dibawa ke rumah sakit, gak bisa ngomong, terus dirumah sakit dibawa pulang lagi, meninggal dirumah,” katanya, Rabu (26/5/2-21).

Tidak ada laporan ke Polsek karena tidak ada tindak kejahatan, AKP Supardi melanjutkan, sakit meninggal karena saraf. “Sakitnya cuma itu tok, sarafnya kena, jadi kami tidak tahu kalau kayak gitu, tetapi dari Babin kami punya data itu, warga Pagaralang rumahnya Grumbul Posangit kemudian dimakamkan di Sibalung kemarin,” lanjutnya.

Dari pesan berantai yang beredar, anak disebutkan baru pegang HP setelah adanya covid. Dia salah satu siswa SMP di Kemranjen. “Pembelajaran untuk kita semua, jangan sampai anak kecanduan HP,” salah satu kalimat pesan berantai yang beredar.

Kepala desa setempat, inisial S, mengatakan berdasarkan keterangan keluarga, anak itu sempat dirawat di RSUD Banyumas.

“Sempat dirawat di rumah sakit Banyumas. Saya kemarin juga sempat jenguk ke rumah duka. Keterangan dari ibunya itu jadi siang malam tidak terlepas dari handphone. Gitu saja keterangannya. Lalu dibawa ke rumah sakit katanya syaraf,” kata S kepada detikcom, Rabu (26/5/2021).

Dia mengatakan, setelah itu, masih berdasarkan keterangan keluarga, anak itu sempat merasakan tidak enak badan hingga akhirnya drop dan dilarikan ke rumah sakit.

“Nah kalau mainan game online apa saya juga tidak tahu persis, yang jelas pegang HP itu saja. Itu mulai terasa tidak enak badan hari raya (lebaran) kedua. Setelah itu langsung drop berkurang, berkurang, berkurang,” jelasnya.

Meskipun demikian, dirinya tidak mengetahui secara pasti meninggalnya anak itu disebabkan karena apa.

“Kalau secara jelas saya tidak bisa tahu, untuk diagnosa dia kecanduan atau tidak itu dokter. Kalau saya hanya sepintas dengar saja. Kalau secara formal itu yang bisa menjelaskan pihak rumah sakit,” ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Banyumas dr Rudi Kristiyanto membenarkan bahwa anak tersebut sempat menjalani perawatan di RSUD Banyumas pada tanggal 16-17 Mei 2021. Pasein tersebut didiagnosis mengalami gangguan mental organik (GMO) dan encephalitis.

“Pasien tersebut didiagnosis gangguan mental organik dan encephalitis. Itu berdasarkan rapat bersama antara dokter spesialis jiwa dengan dokter spesialis anak. Pasien tersebut diprogram karena ada gangguan mental organik dan encephalitis, jadi diprogramlah CT scan dengan obat-obatan yang sudah dijalankan,” ujarnya.

Dengan itu, lanjut dia, maka obat-obatan masuk sesuai dengan indikasi medisnya ditambah dengan program CT scan untuk penegakan diagnosis tersebut. Dengan harapkan pengobatannya dapat lebih detail.

“Tapi untuk kasus ini, pasien tidak jadi dilakukan CT scan karena penolakan CT scan, dan meninggalnya di rumah karena menolak tindakan untuk penegakan diagnosis,” jelasnya.

Dia juga mengungkapkan jika tidak ada diagnosis kecanduan game online. Karena dalam istilah diagnosis medis tidak ada kecanduan. Diagnosisnya adalah gangguan mental organik dan encephalitis. Diagnosis medis tersebut sudah sesuai dengan standar internasional berdasarkan WHO.

“Itu istilah medis, gangguan mental organik itu gangguan mental yang disebabkan kelainan organik, organiknya encephalitis itu. Encephalitis itu gangguan pada otak. Tidak ada istilah medis kecanduan game online,” ucapnya. (rad/dtc/rea)

Leave A Reply

Your email address will not be published.