Aawas, Peredaran Narkotika di Jepara Dikendalikan dari Lapas Kedungpane!

Para tersangka peredaran narkoba di Jepara. (Foto: IST)

Jepara | Memo Jateng

Kabupaten Jepara menjadi salah satu pusat peredaran narkotika di Jawa Tengah. Ironisnya, peredaran narkotika di Bumi Kartini ini dikendalikan oleh narapida di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Kedungpane Semarang.

Hal ini disampaikan kepala Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jawa Tengah Brigjen Pol Benny Gunawan dalam ungkap kasus  tindak pidana narkotika di Pendopo Kabupaten Jepara, Kamis (29/4).

Pada kasus pertama yang diungkap, peredaran jaringan ini melibatkan kurir berinisial DS alias Bakso (26), warga Desa Mulyoharjo, Jepara. Tersangka diamankan pada Minggu (28/3) pukul 15.00 ketika hendak mengedarkan paket sabu. Ia membawa dua paket narkotika jenis sabu yang dimasukan dalam bungkus permen seberat 0,6 gram, dan diamankan saat hendak mengirimkan paket sabu tersebut menggunakan sepeda motor warna merah Nopol K 3856 RV.

”Dari penangkapan Bakso, petugas melakukan pengembangan dan mendapat informasi adanya transaksi narkotika di sekitar Benteng Portugis,” terangnya.

Saat menuju Benteng Portugis, petugas mencurigai gerak gerik seseorang di pinggir jalan, kemudian diamankan dan diinterogasi. Diketahui, ia ternyata dipandu MR (43), warga Kelurahan Tulakan, Kecamatan Donorojo melalui telepon untuk mengambil paket narkotika jenis sabu. Saat dilakukan penyisiran disekitar lokasi, petugas mendapatkan satu paket sabu seberat 26 gram.

”Sabu diletakkan di sebelah tiang telepon di pinggir jalan. Lalu kami geledah rumahnya terdapat satu alat timbangan, satu pack plastik klip kecil dan satu alat hisap sabu atau bonk serta satu unit HP,” ungkapnya.

Dari pengakuannya, MR diperintah seorang narapidana Lapas Kelas I Kedungpane Semarang bernama Andi Sutiyono alias Ganden (47) untuk mengambil sabu tersebut. Sabu direncanakan diedarkan di wilayah Jepara dan sekitarnya. Adapun dari penelusuran  di Lapas Kelas 1 Kedungpane, berhasil mengamankan Ganden yang sedang menjalani vonis tujuh tahun.

Peredaran narkotika dengan sasaran Jepara juga diketahui dari penggagalan pengiriman narkoba seberat 101 gram atau senilai Rp 1,3 miliar,  saat perjalanan di jalur Semarang-Yogyakarta. Kurirnya adalah AI warga Desa Lebak Kecamatan Pakis Aji, dan MM warga Desa Kecapi, Kecamatan Batealit. Keduanya ditangkap berdasarkan laporan masyarakat.

”Kami tangkap saat mereka mengambil sabu yang akan dibawa ke Jepara. Tepatnya di Tol Ambarawa,” ungkap Benny.

Dalam kasus ini, kedua kurir dikendalikan salah satu warga binaan di LP Kelas I Kedungpane Semarang. Hingga sekarang, BNP masih melanjutkan pemeriksaan terkait jaringan yang berhubungan dengan kasus tersebut.

”Selain barang bukti sabu, kami juga berhasil menyita satu kendaraan roda empat dan ponsel,” tuturya.

Ia meminta agar semua pihak ikut peduli dan mengawasi peredaran narkotika, terutama di Jepara yang menjadi salah satu pusat peredaran karena memiliki wilayah geografis yang strategis, banyaknya warga negara asing, serta industri yang berkembang pesat.

Benny menambahkan, selama 2020 BNP telah menangani kasus narkotika dengan tersangka warga Jepara sebanyak 15 orang. Tahun ini, sejak Januari hingga April sudah ada enam warga Jepara yang juga tersangkut masalah yang sama.

”Di Polres Jepara ada 59 kasus yang sedang ditangani,” imbuhnya.

Saat ini peredaran narkotika sudah menyasar sampai pelosok desa, sehingga butuh kepedulian semua pihak. Sebagai kota dengan episentrum penyebaran narkotika, Benny meminta kerja sama kepala daerah dan forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) untuk turut mengantisipasi penyebaran barang haram ini. (sm/rif)