Petani Ini Temukan Ribuan Kepingan Uang China Kuno

Pekalongan I memo jateng
Seorang petani di Dusun Leles, Desa Windurojo, Kecamatan Kesesi, Pekalongan, menemukan ribuan kepengan uang kuno, saat mencangkul di lahan sawahnya. Peristiwa ini terjadi pertengkahan Desember lalu di blok persawahan Kraminan.
Ceritanya, Dahri Rohmanto (60), petani warga Dusun Leles ini, kaget, saat cangkulnya berbenturan dengan benda keras. Awalnya dikira batu. Karena mengganggu aktivitasnya di sawah, ia kemudian menggalinya untuk menyingkirkan benda keras yang mengenai cangkulnya. Setelah digali hingga sekitar satu meteran, Dahri kaget dengan adanya rantai dan kepengan uang kuno tersebut, yang berada dalam sebuah wadah (tempat), dengan kondisi pecah.
Kaget bukan kepalang, Dahri menemuka benda-benda tersebut. Benda-benda yang sudah ditemukan tersebut, kemudian diambil dan dijadikan satu ke dalam karung yang ia bawa.
“Tempatnya uang, kayak gerabah itu sudah pecah, saya ambil koin dan ada rantainya, saya masukan ke karung dan saya bawa pulang,” katanya.
Menurutnya, saat ditemukan, sedianya kepengan uang yang tengah ya berlubang tersebut, diikat dengan tali. Namun, saat diangkat, talinya putus.
“Tadinya saat ditemukan, ya seikat-seikat itu. Cuman saya angkat, talinya putus. Uang kuno ini, tengahnya bolong ada tulisannya gak tahu tulisan apa. Awalnya lengket-lengket menempel satu dengan lainnya,” tuturnya.
Sesampainya di rumah, perjalanan sekitar 10 menit jalan kaki dari areal persawahannya, temuan keoengan yang kini tersebut langsung dicuci. Beberapa kali dicuci tulisan yang ada di keengan uang inipun belum begitu jelas.
Beberapa hari setelah itu, ada beberapa kepeng yang nampak muncul tulisan ala huruf Cina. Karena mengetahui temuanya merupakan benda kuno, dirinya melaporkan ke pihak desa dan diteruskan ke instansi terkiat, Dinas Pendidia dan Kebudayaan Pekalongan, hingga akhirnya dilanjutkan ke Balai pelestarian dan Cagar Budaya Jawa Tegah.
Petugas dari Balai Pelestarian dan Cagar Budaya Jawa Tengah, didampingi petugas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pekalongan, mendatangi rumah Dahri. Setelah dilakukan pemeriksaan sementara, menurut Muhammad Junawan, salah satu petugas, kepengan uang kuno perunggu tersebut, berat total mencapai 6 Kg, dengan junlah kepengen sebanyak 1997. Sedangkan untuk rantai perunggu beratnya 1,5 kg, dengan lanjanh 144 cm. Selain itu, pihaknya juga menemuka pecahan wadah bokor yang seberat 1,8 kg.
“Tadi kita telah melakukan pemeriksaan dengan alat XRF. Hasilnya, sebagian besar berbahan perunggu ya. Cenderung berbahan tembaga dan timah, sehingga itu merupakan perunggu. Hanya satu bahan yang dominan tembaga,” katanya.

Dijelaskannya, bentuk seperti uang logam, diakuinya sebagai mata uang keping cina.

“Untuk jenisnya tadi, jelas ya mata uang, mata uang keping cina, ada rantai ya, kemudian ada benda wadah (tempat) yang sayang sekali kondisinya sudah remuk ya, menjadi fragmen-frahmen (pecahan), namun yang jelas itu sebuah wadah dan menurut informasi penemu kan, benda-benda tadi di dalam satu wadah tersebut,” jelas Muhammad Junawan.

Dirinya sendiri belum begitu mendalami terkait pembuatanya kapan. Namun, diakuinya keping uang semacam itu sudah dikenal sejak abad 11-12. Dirinya menjelaskan temuan serupa juga pernah dilaporkan di wilayah Boyolali dan Klaten.
Selanjutnya, pihaknya akan melakukan penelitian lebih lanjut dengan membawa sampel dari barang-barang kuno yang ditemukan warga setempat.
Petugas Balai pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, kemudian membawa 10 koin keping cina perunggu, sebuah rantai perunggu dan dua lembar bokor bermotif perunggu. (red/rif)