Minyak Tumpah di Karawang Gubernur Jabar Minta Pertamina Tanggung Jawab

Karawang, Memo Jateng – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta Pertamina bertanggung jawab atas terjadinya tumpahan minyak (oil spill) Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Karawang, mulai dari sektor bisnis hingga kerusakan lingkungan.

“Saya minta Pertamina bertanggung jawab penuh terhadap semua hal. Dari bisnisnya, ikan yang tidak bisa ditangkap, nelayan yang kehilangan mata pencaharian, kerusakan hutan bakau, dan lain-lain,” kata Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil di Mapolda Jabar, Kota Bandung, Kamis (8/8).

Emil menjelaskan bahwa peran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar soal insiden tersebut adalah berkoordinasi dengan berbagai pihak agar kelangsungan hidup masyarakat yang terdampak tidak bermasalah.
“Salah satunya adalah kompensasi dari kehilangan mata pencaharian juga harus diselesaikan oleh Pertamina,” kata Emil didampingi Bupati Karawang Cellica Nurachadiana saat meninjau lokasi terdampak tumpahan minyak (oil spill) Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), di Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang.

Pada kesempatan ini, Emil melakulan dialog bersama puluhan warga desa terdampak, khususnya para nelayan dan penambak ikan. Mereka mengeluh tak bisa melaut, meski Pertamina mempekerjakan mereka dalam upaya pembersihan minyak, dengan upah sekitar Rp 100 ribu per hari.

Menindaklanjuti keluhan tersebut, Emil minta pemerintah daerah (pemda) yang warganya terdampak oil spill untuk segera menghitung kerugian. Dalam jangka waktu 10 sampai 14 hari, kerugian akan diberikan langsung kepada warga.

“Saya minta (pemda) untuk membentuk tim, mencatat ganti rugi, harus seobjektif mungkin. Dan masyarakat (terdampak), saya minta informasinya, tidak dilebihkan dan tidak dikurang-kurangkan,” ujar Emil di hadapan warga.

Sementara itu, dibantu masyarakat, personel TNI dan Polri, serta Pertamina, terus berupaya membersihkan tumpahan minyak yang masih ada. Untuk menangani bocor pada sumur yang mengakibatkan oil spill tersebut, saat ini Pertamina tengah berupaya menyumbat bagian bocornya dengan melibatkan ahli.

Pertamina yang diwakili Nanang Abdul Manap menuturkan, sejak 14 Juli 2019, pihaknya telah menetapkan kejadian oil spill Karawang sebagai situasi emergency.
“Kami sangat prihatin dan sangat komitmen untuk bertanggung jawab,” ujarnya.

Meski begitu, kata Nanang, Pertamina akan tetap meneruskan rencana produksi minyak dan gas, khususnya untuk suplai ke Jabar, karena kebutuhan minyak dan gas Jabar masih defisit.

“Kami ingin menambah produksi, dengan meningkatkan produksi minyak 3.000 barel per hari, ditambah dengan gas 25 juta kaki kubik,” ucapnya. (oto/rif)