Penghuni Tetap Rp5,5 Juta, Freelance Nol Rupiah

0 34

Semarang, Memo Jateng – Lokalisasi Argorejo atau yang terkenal dengan sebutan Sunan Kuning dipastikan akan ditutup sebelum 17 Agustus 2019.
Kasi Tuna Sosial dan Perdagangam Orang (TSPO) Dinas Sosial Kota Semarang Anggie Ardhitia mengatakan, sejauh ini tinggal melakukan eksekusi pemulangan para wanita pekerja seksual (WPS) yang mayoritas berasal dari luar daerah Kota Semarang.
“Dari Dinsos sudah melakukan proses yang cukup panjang. Kami selalu berkoordinasi dengan ketua resos terkait dengan tahapan-tahapan yang dilaksanakan dalam rangka penutupan lokalisasi. Alhamdulillah, pihak resos sudah bersedia mendukung Pemkot menghilangkan prostitusi,” ujarnya, kemarin.
Dikatakan Anggie, pihaknya pun telah mempersiapkan dana bantuan sebagai jaminan hidup bagi penerima manfaat yakni bagi para wanita pekerja seks (WPS) sebesar Rp5,5 juta.
Dana tersebut berasal dari Kementrian Sosial. Selain itu, Pemkot Semarang juga akan memberikan dana bantuan menggunakan dana APBD. Terkait dengan jumlah dana yang dikucurkan Pemkot, Anggie belum dapat menyebutkannya. “Dana itu satu kali pemberian. Nanti tidak diberikan secara tunai namun masuk ke rekening masing-masing,” sebutnya.
Menurutnya, penerima hanya bagi WPS penghuni wisma tetap. Sedangkan freelance WPS tidak akan menerima dana bantuan jaminan hidup. Adapun data penghuni wisma tetap, Anggie menyebutkan terdapat 476 WPS.
Dinsos juga akan melakukan verifikasi ulang terkait jumlah WPS yang ada di lokalisasi Sunan Kuning. Verifikasi ini dimaksudkan untuk penyaluran bantuan tunjangan hidup dari kementerian dan APBD kota. “Kami akan lakukan verifikasi karena belum tentu mereka menerima. Ada yang biasanya tidak mau menerima dan tidak mau didata. Ada yang pulang dengan sendirinya,” bebernya.
Anggie menjelaskan, sebenarnya, penutupan lokalisasi Sunan Kuning ini, rencananya dilakukan pada 2018 lalu. Namun, pihaknya masih mempertimbangkan nasib warga setempat yang bermata pencaharian di sekitar lingkungan tersebut seperti tenaga asuh anak, tenaga laundry, penjual makanan, dan sebagainya.

“Kalau ditutup begitu saja, mereka akan kehilangan pekerjaan. Sehingga, Dinsos mempersiapkan hal ini secara matang agar tidak ada permasalahan baru yang timbul akibat ditutupnya lokalisasi tersebut,” jelasnya.

Dia menjelaskan, warga sekitar tidak mendapatkan dana bantuan jaminan hidup namun Dinsos memberikan fasilitas lain seperti pelatihan berbagai keterampilan. Pasca pentutupan, Pemkot juga berencana akan menjadikan kawasan tersebut sebagai kampung tematik pusat kuliner. “Yang mereka inginkan apa, itu yang kami berikan,” terangnya.
Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto menerangkan, dari data saat ini, terdapat sekitar 479 warga binaan di lokasi tersebut.
“Lokalisasi Argorejo terkenal dengan sebutan Sunan Kuning, padahal Sunan Kuning itu identik dengan sejarah Islam. Jadi kami tidak ingin sebutan Sunan Kuning malah jadi tempat esek-esek, jadi akan kita tutup dan kita ganti dengan pusat kuliner atau diubah jadi kampung tematik,” imbuhnya.
Fajar akan menggencarkan razia usai relokasi warga binaan lokalisasi Argorejo. Dia tidak ingin bekas warga binaan malah mangkal di wilayah lain di Kota Semarang.
Sementara itu, tokoh masyarakat lokalisasi Argorejo, Suwandi, mengatakan, dalam proses relokasi dia menginginkan warga binaan harus dilakukan dengan bijaksana. Apalagi salama ini pihaknya ikut membantu melakukan pembinaan warga tersebut.(mar/mht)

Leave A Reply

Your email address will not be published.